FIRST THEY KILLED MY FATHER ! Buku yang merubah cara pandang saya tentang kehidupan.
Judul : First They Killed My Father: A Daughter of Cambodia Remembers
Penulis :Loung Ung
Ketika saya memutuskan membeli buku ini di tumpukan buku murah di Gramedia, saya sedikit ragu akan isinya. karena kondisi nya waktu itu terletak paling bawah dan warna halamannya sudah berubah kusam. Buku FIRST THEY KILLED MY FATHER ! waktu itu terasa seperti magnet yang tidak bisa saya lepaskan dari genggaman saya, padahal masih banyak buku yang harus saya beli. Gambar covernya membuat saya semakin tertarik.
Bercerita dengan bahasa yang mengalir cepat membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. dengan kata-kata lugas dan berani, penulis berhasil membawa saya ke masa Tentara Kmer Merah mengasai Kamboja.
Kisah bocah kecil " Loung " berawal dari keceriannya di kota Pnomp Penh di tahun 1975 ketika sang ayah yang biasa dipanggilnya "Pa" masih menjabat sebagai seorang jendral sebelum tentara Kmer Merah menguasai Kamboja. Di Bab pertama pembaca dibawa ke jaman Kamboja masih menjadi kota bersahaja lengkap dengan cerita tentang kehidupan sehari-hari dan keramaian jalanannya. pada Bab ini juga dijelaskan secara singkat tetapi jelas tentang keluarga Loung yang terdiri dari 7 bersaudara.
Hidup sebagai anak seorang pejabat membuat Loung yang ketika itu berusia 5 tahun mendapatkan kehidupan yang berkecukupan dan gelimang harta serta perhatian yang cukup dari orang sekitar.
Cerita berubah menjadi mendebarkan ketika Loung menceritakan tentang arak-arakan tentara Kmer Merah tiba dikota Pnomp Penh, Kamboja. Seketika plot cerita yang mulanya gembira menjadi hitam dan lama kelamaan menjadi menyedihkan. Karena situasi yang sudah tidak memungkinkan untuk mereka tinggal di kota Pnomp Phen, mereka sekeluarga memutuskan mengungsi dengan mengendarai truk milik keluarga. perjalanan yang tiada henti akhirnya dilanjutkan dengan kisah-kisah tentang cara mereka bertahan hidup dengan bekal secukupnya.
Setelah menemukan keluarga dari "Ma" - panggilan untuk Ibu Nya Loung, disebuah desa di pedalaman Kamboja, keluarga ini masih bersatu dan bahu membahu untuk mencari makanan. ketika membaca bagian ini, penulis membawa pembaca ke sebuah koma atau jeda untuk bernafas karena disini diceritakan hidup mereka cukup bahagia dan berkecukupan. tetapi semuanya berubah waktu Pa memutuskan harus pindah lagi karena khawatir akan ancaman ada yang mengetahui keberadaan mereka. Tentara Kmer Merah akan membinasakan seluruh keluarga apabila mereka mengetahui Pa adalah bekas pejabat. Perjalanan mereka kembali dilanjutkan dari satu tempat ke tempat yang lain.
Perjuangan mereka untuk mencari tempat yang aman pun diceritakan amatlah sulit, dengan persediaan makanan yang sangat tipis mereka harus berjuang untuk melanjutkan hidup.
Tentara Kmer Merah yang memuja "Angkar" juga mendoktrin semua orang supaya mengikuti ajaran-ajaran mereka. Kerja Paksa diterapkan di tanah pertanian tetapi hasilnya dipakai untuk membeli senjata dari luar negeri. Makanan yang diberikan kepada rakyat cuma sedikit sekali jumlahnya.
diceritakan pula bahwa banyak sekali penduduk yang mati kelaparan atau mati karena memakan jamur-jamur racun yang mereka temui di hutan.
Cerita semakin kelam ketika akhirnya Pa dijemput tentara dan tidak ada berita tentang kepulangannya. sebelumnya kakak kakak Loung sudah terpisah karena dipaksa untuk hidup dicamp-camp pelatihan perang. Hidup tanpa Pa menyebabkan Ma memutuskan mereka harus berpisah dan mengirim ke tiga putra dan putri nya yang masih kecil ke camp-camp perang, Terpisah dari Ma membuat Loung menjadi gadis yang kuat dan keras. berkelahi sudah biasa dilakoninya di camp ini sehingga ia dikirim ke camp yang lainnya yang lebih membutuhkan anak yang kuat.
Setelah membaca buku ini, cara pandang saya tentang hidup menjadi berubah. Ternyata saya dibesarkan dengan sangat nyaman dan dilingkungan yang semuanya mendukung saya. dibandingkan dengan anak-anak pengungsi camp-camp di Kamboja dan camp-camp perang lainnya. Makanan yang saya makan meskipun tidak mewah sangatlah mencukupi dibandingkan dengan mereka. begitu juga dengan pendidikan dan fasilitas pendukung lainnya.
Loung Ung sang penulis menurut saya berhasil membawa pembaca kembali ke masa-masa suram ditahun 1975 ke 1988 sampai kemudian berhasil lolos dari penderitaan. narasi-narasi berani yang mengungkapkan kejahatan tentara-tentara Kmer Merah juga begitu lugas.
Mungkin cuma satu kelemahan dari buku ini yang saya rasa tidak begitu menggangu, yaitu sudut pandang seorang anak umur 5 tahun yang cara menceritakannya terlalu "pintar". tetapi kelemahannya bisa ditutupi oleh cerita-cerita pilu tentang pertahanan hidup sebuah keluarga.
https://www.goodreads.com/review/show/1321409069


0 komentar: