A Fine Balance by Rohinton Mistry



Buku yang mengambil setting di India pada tahun 1975 ini membuat saya tidak dapat berhenti membaca nya. didalamnya dituliskan kehidupan rakyat miskin ketika itu dengan segala kesusahan dan penderitaannya. bertempat disebuah kota yang dinamakan " unnamed city by the sea" buku ini mampu membawa emosi saya naik dan turun secara tiba-tiba.
Berkisah tentang seorang janda, mahasiswa bagian elektronik yang berasal dari kota kecil dan 2 penjahit dari kasta rendah disebuah desa yang berbagi tempat tinggal di satu apartemen kecil dikota itu siap menghadapi masa depan yang belum pasti ditengah tengah situasi darurat di Indonesia.

Plotnya berjalan dari orang-orang asing  yang bertemu dan saling bertentangan kemudian ke sebuah pertemanan akrab  melebihi sebuah keluarga.

ketika membaca buku ini, saya merasakan kedekatan mereka saat menghadapi masalah-masalah.
Buku yang saya sangat rekomendasikan untuk dibaca dan terbukti berkualitas karena sudah memenangkan beberapa penghargaan.


A Thousand Splendid Suns - Cerita Feminisme dari seorang Penulis Pria.

Beberapa tahun lalu saya terpesona membaca buku Khaled Hosseni yang berjudul Kite Runner dan sekarang pun masih merasakan yang sama ketika membaca bukunya yang kedua "A Thousand Splendid Suns". Suasasana di Kabul dan Herat terasa sedikit luntur karena penulis berkonsentrasi dengan cerita tentang 2 wanita berbeda jaman. Dibuku ini, Khaled seakan bertindak sebagai agen Komisi Perlindungan Wanita dengan mengangkat kisah hidup Mariam dan Laila yang keduanya - karena keadaan- dipertemukan oleh kisah besar ini.

Buku dimulai dengan cerita tentang perlakuan keluarga dari Jalil - ayah Mariam  terhadap ibu Mariam yang membuangnya karena hamil sewaktu dia menjadi pelayan keluarga.
Cerita pun mengalir bagai sinetron-sinetron lokal yang melankonis, Bayi yang kemudian lahir dan bernama Mariam dan cerita tentang hubungan Ayah dan anak pun berlanjut, sampai akhirnya kisah menyedihkan tentang Mariam memaksa ke kota meski sudah dilarang sang Ibu.
Tragedi-tragedi pun terus berulang dikehidupan Mariam. Sampai kemudian di ceritakan Mariam dinikahkan dengan seorang Duda pembuat sepatu.
Kehidupan Mariam ditulis menyedihkan biarpun sudah menikah dengan seorang yang mapan, salah satu nya karena dia tidak berhasil memberi keturunan karena keguguran.
Cerita kemudian dialihkan ke Laila, seorang bocah yang terlahir di kota Kabul dengan latar belakang berkecukupan.  karena pergolakan politik yang terjadi, pemerintah mengirim kakak-kakaknya ke medan perang.  
Kisah-kisah pun berlanjut dan akhirnya Laila pun berbagi nasib dengan Mariam.

Buku ini ditulis dengan sangat indah oleh seorang lelaki, meskipun pesan feminisme yang di angkat sangat kental. meski disetting di tengah pergolakan politik, kisah dibuku ini terasa terjadi ditengah situasi yang tenang. hanya pergolakan antar individu yang saya rasa memanas.mungkin penulis sudah memperkirakan tentang pembaca yang kebanyakan wanita makanya ditulislah kisah ini dari sudut pandang seorang wanita yang tidak begitu senang dengan adegan-adegan kekerasan.


FIRST THEY KILLED MY FATHER ! Buku yang merubah cara pandang saya tentang kehidupan.


Judul : First They Killed My Father: A Daughter of Cambodia Remembers
Penulis :Loung Ung 



Ketika saya memutuskan membeli buku ini di tumpukan buku murah di Gramedia, saya sedikit ragu akan isinya. karena kondisi nya waktu itu terletak paling bawah dan warna halamannya sudah berubah kusam. Buku FIRST THEY KILLED MY FATHER ! waktu itu terasa seperti magnet yang tidak bisa saya lepaskan dari genggaman saya, padahal masih banyak buku yang harus saya beli. Gambar covernya membuat saya semakin tertarik.
Bercerita dengan bahasa yang mengalir cepat membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. dengan kata-kata lugas dan berani, penulis berhasil membawa saya ke masa Tentara Kmer Merah mengasai Kamboja.
Kisah bocah kecil " Loung " berawal dari keceriannya di kota Pnomp Penh di tahun 1975 ketika sang ayah yang biasa dipanggilnya "Pa" masih menjabat sebagai seorang jendral sebelum tentara Kmer Merah menguasai Kamboja. Di Bab pertama pembaca dibawa ke jaman Kamboja masih menjadi kota bersahaja lengkap dengan cerita tentang kehidupan sehari-hari dan keramaian jalanannya. pada Bab ini juga dijelaskan secara singkat tetapi jelas tentang keluarga Loung yang terdiri dari 7 bersaudara.
Hidup sebagai anak seorang pejabat membuat Loung yang ketika itu berusia 5 tahun mendapatkan kehidupan yang berkecukupan dan gelimang harta serta perhatian yang cukup dari orang sekitar.
          Cerita berubah menjadi mendebarkan ketika Loung menceritakan tentang arak-arakan tentara Kmer Merah tiba dikota Pnomp Penh, Kamboja.  Seketika plot cerita yang mulanya gembira menjadi hitam dan lama kelamaan menjadi menyedihkan. Karena situasi yang sudah tidak memungkinkan untuk mereka tinggal di kota Pnomp Phen, mereka sekeluarga memutuskan mengungsi dengan mengendarai truk milik keluarga. perjalanan yang tiada henti akhirnya dilanjutkan dengan kisah-kisah tentang cara mereka bertahan hidup dengan bekal secukupnya.
          Setelah menemukan keluarga dari "Ma" - panggilan untuk Ibu Nya Loung, disebuah desa di pedalaman Kamboja, keluarga ini masih bersatu dan bahu membahu untuk mencari makanan. ketika membaca bagian ini, penulis membawa pembaca ke sebuah koma atau jeda untuk bernafas karena disini diceritakan hidup mereka cukup bahagia dan berkecukupan. tetapi semuanya berubah waktu Pa memutuskan harus pindah lagi karena khawatir akan ancaman ada yang mengetahui keberadaan mereka. Tentara Kmer Merah akan membinasakan seluruh keluarga apabila mereka mengetahui Pa adalah bekas pejabat. Perjalanan mereka kembali dilanjutkan dari satu tempat ke tempat yang lain.
         Perjuangan mereka untuk mencari tempat yang aman pun diceritakan amatlah sulit, dengan persediaan makanan yang sangat tipis mereka harus berjuang untuk melanjutkan hidup.
Tentara Kmer Merah yang memuja "Angkar" juga mendoktrin semua orang supaya mengikuti ajaran-ajaran mereka. Kerja Paksa diterapkan di tanah pertanian tetapi hasilnya dipakai untuk membeli senjata dari luar negeri. Makanan yang diberikan kepada rakyat cuma sedikit sekali jumlahnya.
diceritakan pula bahwa banyak sekali penduduk yang mati kelaparan atau mati karena memakan jamur-jamur racun yang mereka temui di hutan.
         Cerita semakin kelam ketika akhirnya Pa dijemput tentara dan tidak ada berita tentang kepulangannya. sebelumnya kakak kakak Loung sudah terpisah karena dipaksa untuk hidup dicamp-camp pelatihan perang. Hidup tanpa Pa menyebabkan Ma memutuskan mereka harus berpisah dan mengirim ke tiga putra dan putri nya yang masih kecil ke camp-camp perang, Terpisah dari Ma membuat Loung menjadi gadis yang kuat dan keras. berkelahi sudah biasa dilakoninya di camp ini sehingga ia dikirim ke camp yang lainnya yang lebih membutuhkan anak yang kuat.
     


       Setelah membaca buku ini, cara pandang saya tentang hidup menjadi berubah. Ternyata saya dibesarkan dengan sangat nyaman dan dilingkungan yang semuanya mendukung saya. dibandingkan dengan anak-anak pengungsi camp-camp di Kamboja dan camp-camp perang lainnya. Makanan yang saya makan meskipun tidak mewah sangatlah mencukupi dibandingkan dengan mereka. begitu juga dengan pendidikan dan fasilitas pendukung lainnya.
      Loung Ung sang penulis menurut saya berhasil membawa pembaca kembali ke masa-masa suram ditahun 1975 ke 1988 sampai kemudian berhasil lolos dari penderitaan. narasi-narasi berani yang mengungkapkan kejahatan tentara-tentara Kmer Merah juga begitu lugas.
     Mungkin cuma satu kelemahan dari buku ini yang saya rasa tidak begitu menggangu, yaitu sudut pandang seorang anak umur 5 tahun yang cara menceritakannya terlalu "pintar". tetapi kelemahannya bisa ditutupi oleh cerita-cerita pilu tentang pertahanan hidup sebuah keluarga.

   https://www.goodreads.com/review/show/1321409069