A Thousand Splendid Suns - Cerita Feminisme dari seorang Penulis Pria.
Beberapa tahun lalu saya terpesona membaca buku Khaled Hosseni yang berjudul Kite Runner dan sekarang pun masih merasakan yang sama ketika membaca bukunya yang kedua "A Thousand Splendid Suns". Suasasana di Kabul dan Herat terasa sedikit luntur karena penulis berkonsentrasi dengan cerita tentang 2 wanita berbeda jaman. Dibuku ini, Khaled seakan bertindak sebagai agen Komisi Perlindungan Wanita dengan mengangkat kisah hidup Mariam dan Laila yang keduanya - karena keadaan- dipertemukan oleh kisah besar ini.
Buku dimulai dengan cerita tentang perlakuan keluarga dari Jalil - ayah Mariam terhadap ibu Mariam yang membuangnya karena hamil sewaktu dia menjadi pelayan keluarga.
Cerita pun mengalir bagai sinetron-sinetron lokal yang melankonis, Bayi yang kemudian lahir dan bernama Mariam dan cerita tentang hubungan Ayah dan anak pun berlanjut, sampai akhirnya kisah menyedihkan tentang Mariam memaksa ke kota meski sudah dilarang sang Ibu.
Tragedi-tragedi pun terus berulang dikehidupan Mariam. Sampai kemudian di ceritakan Mariam dinikahkan dengan seorang Duda pembuat sepatu.
Kehidupan Mariam ditulis menyedihkan biarpun sudah menikah dengan seorang yang mapan, salah satu nya karena dia tidak berhasil memberi keturunan karena keguguran.
Cerita kemudian dialihkan ke Laila, seorang bocah yang terlahir di kota Kabul dengan latar belakang berkecukupan. karena pergolakan politik yang terjadi, pemerintah mengirim kakak-kakaknya ke medan perang.
Kisah-kisah pun berlanjut dan akhirnya Laila pun berbagi nasib dengan Mariam.
Buku ini ditulis dengan sangat indah oleh seorang lelaki, meskipun pesan feminisme yang di angkat sangat kental. meski disetting di tengah pergolakan politik, kisah dibuku ini terasa terjadi ditengah situasi yang tenang. hanya pergolakan antar individu yang saya rasa memanas.mungkin penulis sudah memperkirakan tentang pembaca yang kebanyakan wanita makanya ditulislah kisah ini dari sudut pandang seorang wanita yang tidak begitu senang dengan adegan-adegan kekerasan.


0 komentar: